Rabu, 20 Maret 2013

PANCASILA DALAM DUNIA PENDIDIKAN KITA

Kelas 1 Sekolah Dasar adalah masa-masa dimana kita merasa asing dengan suasana sekolah, terlebih dengan nama-nama pelajarannya. Saya masih ingat, betapa susahnya saya harus mengingat nama-nama pelajaran tersebut dan salah satu yang cukup sulit diingat adalah Pelajaran Moral Pancasila atau lebih akrab disebut PMP.  Pelajaran yang satu ini terasa sangat berbeda karena salah satu materinya adalah menghapalkan bunyi dari sila yang ada dalam pancasila tersebut. Jadilah dihari-hari pertama saya sekolah, PMP adalah momok terbesar.

Setiap hari, disetiap kesempatan baik itu di sekolah ataupun di rumah, bahkan pada saat mandi sekalipun, yang selalu saya hapalkan adalah pancasila. Selain bunyi silanya, tak lupa menghapal lagunya yang berjudul Garuda Pancasila ciptaan Sudharnoto.

Seiring berjalannya waktu, berubahlah kurikulum pendidikan di negeri ini, PMP kemudian berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), sudah mulai ada perubahan yang saya rasakan kala itu. Porsi pendidikan pancasila sudah mulai terkikis.

Selepas bangku sekolah, saya tidak mengikuti lagi perkembangan kurikulum di negeri ini, entah sudah berapa kali terjadi perubahan sejak saya tinggalkan bangku sekolah belasan tahun yang lalu. Saya merasa tidak bersinggungan dengan dunia pendidikan, jadi biarlah kurikulum itu berganti berapa kali pun tetap tidak ada efek bagi saya pribadi.

Tapi saya tersadar, ternyata saat ini PMP yang saya kenal dulu telah begitu jauh berbeda. Kesadaran tersebut hadir saat anak saya mulai harus mengenal bangku sekolah dasar, disaat itulah saya harus kembali mengambil memori yang telah lama terkubur dalam bagian terdalam otak saya. Mengenang kembali pelajaran apa saja yang dulu diajarkan oleh guru-guru saya disaat saya kelas 1 Sekolah Dasar.

Saya merasa takjub dengan pelajaran kelas 1 SD sekarang, seolah-olah materi itu tidak pernah ada di kelas 1 saat SD saya dulu. Takjub yang makin menjadi-jadi, membuncah tak terbendung.

Tapi, ketakjuban itu perlahan memudar walau masih tetap ada di awang-awang. Hal itu terjadi begitu tak lagi saya temukan pendidikan pancasila disana. Ketika sebuah buku saya pegang, terbaca judulnya “Pendidikan Kewarganegaraan”. Kemana perginya Pancasila..?

Pancasila itukan tidak perlu dihapal, cukup dikenal dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu mungkin salah satu alasan kenapa dihilangkannya sila-sila dari pancasila di buku kelas SD tersebut. Alasan sebenarnya tentu hanya penyusun kurikulum pendidikan yang dapat menjawabnya secara detail. Sedikit banyak saya sepakat dengan itu karena memang tidak ada gunanya menghapalkan pancasila jika tingkah laku harian kita jauh menyimpang dari pancasila itu sendiri.

Tapi tentu tidak ada salahnya kan jika kembali memasukkan materi pendidikan pancasila berikut dengan bunyi sila-silanya kedalam materi pendidikan anak sekolah sekarang. Agar mereka mengenal apa itu pancasila, bukankah ada pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’. Jadi, jangan mengharapkan tahu dan menjadi pancasilais jika mengenal apa itu pancasila saja tidak.

Sekarang, mari kita tengok kemajuan apa saja yang ada di dunia ini, terlebih-lebih dengan makin terbentuknya sebuah dunia baru yang membuat sebuah bangsa nyaris tanpa batas, yang secara sadar atau tidak dapat mengikis habis identitas sebuah bangsa dan tentunya nilai-nilai luhur yang dianut oleh bangsa tersebut. Ya.. dunia baru ini tersebar lewat internet atau dunia maya.

Dunia tanpa batas ini menghilangkan batas wilayah bahkan menghilangkan batas peradaban dan pemikiran, sehingga tak jarang kita merasa gamang. Begitu derasnya arus informasi berseliweran ditengah-tengah kita. Sebagai manusia dewasa saja saya masih sering terkaget-kaget dengan begitu mudahnya sebuah informasi beredar. Tidak sampai hitungan menit sebuah kejadian di negeri antah berantah nun jauh disana dapat kita ketahui hanya dengan memencet sebuah tombol di komputer atau telepon pintar (smartphone) kita.

Kegamangan saya semakin bertambah dengan hadir dan boomingnya berbagai macam situs jejaring sosial, sebutlah diantaranya Facebook dan Twitter. Beberapa tahun lalu memang sempat hadir sebuah situs jejaring sosial yang bernama Friendster, tapi kehadirannya tidak sebombastis Facebook saat ini.

Menjadi perhatian saya dari situs jejaring sosial ini adalah adanya lini masa (Time Line) yang merupakan sarana untuk meng-update status para penggunanya, Lini masa sering kali mengutip sebuah kalimat ‘bijak’ yang bukan bersumber dari kepribadian bangsa atau malah sering kali menyimpang dari norma-norma yang berlaku umum dalam masyarakat kita. Celakanya lagi, lini masa ini dapat dibaca oleh banyak kalangan, mirip jaring laba-laba. Sehingga pemikiran se-frontal dan se-fulgar apapun akan cepat tersebar dan tanpa dapat disaring oleh penggunanya.

Sadar atau tidak, pemikiran yang negatif ini dapat meruntuhkan sebuah nilai yang umum, apalagi jika terus-terusan dihembuskan. Contoh kasus pernah saya alami sendiri. Pada suatu ketika sedang mengecek halaman beranda Facebook, saya dikagetkan dengan adanya ajakan untuk pembentukan kembali aliran komunis di negeri ini. Entah itu ajakan serius atau hanya buatan para pencari sensasi dunia maya, tapi tak  urung semua itu membuat saya bergidik. Betapa semua itu sangat mudah menyebar.

Alasan utama tentu karena siapapun dengan lapisan usia berapapun saat ini dapat mengakses internet, begitu bertebarannya sarana yang memudahkan akses tersebut. Beberapa waktu lalu, mungkin yang dapat mengakses internet adalah orang-orang dengan tingkat kemapanan yang sudah baik dan diatas rata-rata orang kebanyakan. Tapi saat ini, anak-anak prasekolah pun sudah bisa membuka internet. Menjamurnya warung Internet (Warnet) atau menjamurnya perangkat telepon pintar (smartphone) dengan  harga terjangkau menjadi 2 dari banyak sebab mudahnya akses terhadap internet, hal ini semakin diperkuat dengan murahnya tarif untuk akses internet yang disediakan oleh penyedia komunikasi (provider), sehingga tak jarang ada perang harga diantara mereka. Tapi, saya dan anda tidak ingin membahas ini bukan..?

Kemudahan akses informasi ini seolah-olah menjadi sarana pelampiasan sifat dasar manusia yakni ‘homo socius, homo luden, homo economicus dan homo sapien’, yang pada intinya menggambarkan bahwa manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri, manusia butuh berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhannya.  

Para penikmat dunia maya sering kali disajikan sebuah kehidupan yang berbeda dari yang mereka alami. Baik itu melalui iklan yang dihadirkan disebuah situs atau dari pencarian informasi yang mereka lakukan sendiri melalui mesin pencari seperti google, yahoo, dll. Efek yang ditimbulkan dari semua itu adalah kecanduan terhadap internet dan adanya anggapan bahwa semua yang berasal dari luar Indonesia adalah luar biasa dan modern, Semua yang berbau barat adalah modern dan layak ditiru dan diterapkan di Indonesia. Padahal bisa jadi hal itu bertentangan dengan tradisi dan budaya yang ada disini. Akibat dari semua itu tentu makin memperparah gegar budaya (cultural shock) yang telah terjadi.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan saat ini, terlebih lagi kepada para generasi muda kita karena berdasarkan penelitian ternyata mayoritas pengguna internet itu berusia 15-35 tahun dan pada usia ini mereka biasanya menikmati dunia maya tersebut lebih dari 3 jam perhari.

Perhari berselancar selama 3 jam bukanlah waktu yang sedikit, karena dari 3 jam itu banyak informasi yang bisa didapatkan oleh mereka, baik itu informasi yang positif atau bahkan informasi negatif.

lomba blog pusaka indonesia 2013
Kita butuh penangkal jahat dalam hal ini, mungkin bisa dianalogikan bahwa saat ini kita butuh bawang putih untuk menangkal hadirnya para vampire jahat yang akan merusak generasi muda negeri ini, termasuk saya didalamnya.

Disinilah arti pentingnya sebuah identitas sebuah bangsa. Beruntunglah bahwa kita punya pancasila yang mungkin saat ini sedikit terpinggirkan peran dan fungsinya.  Bahkan mungkin telah dianggap sebagai sebuah ajaran yang kuno dan ketinggalan zaman. Kita semua mungkin telah lupa bagaimana pancasila ini dihadirkan oleh para pendiri bangsa ini.

Sekedar membangkitkan kembali ingatan kita akan pancasila, mari kita ulangi bagaimana pancasila dapat hadir di Indonesia.

Pancasila sebagai istilah ternyata telah ada sejak zaman Kemaharajaan Majapahit di abad ke 14 Masehi, adalah Mpu Tantular yang menjelaskan arti pancasila di zaman itu, yakni perintah kesusilaan yang jumlanya lima (pancasila karma), pancasila karma ini ada 5 larangan yakni larangan untuk melakukan kekerasan, larangan mencuri, larangan berjiwa dengki, larangan berbohong dan larangan mabuk akibat dari minuman keras.

Pancasila sebelum dijadikan sebagai dasar negara, sebenarnya nilai-nilai yang terkandung didalamnya telah ada dan menjadi budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat di negeri ini sejak dahulu kala. Para pendiri bangsa inilah yang kemudian menggalinya dan mengangkat nilai tersebut kedalam bahasan resmi yakni dalam sidang-sidang pembentukan negara ini yang dikenal dengan nama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dalam sidang itu kemudian lahirlah piagam Jakarta yang didalmnya tertuang pancasila. Dalam sidang-sidang selanjutnya oleh pengganti BPUPKI yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akhirnya pancasila disahkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945.

Sebuah langkah panjang telah terjadi disana, bagaimana nilai-nilai, adat istiadat dan budaya yang ada di negeri ini kemudian digabungkan menjadi sebuah ideologi yang dinamakan pancasila. Jadi, dari sini dapat disimpulkan bahwa pancasila adalah asli produk dalam negeri. Tidak ada campur tangan asing sedikitpun dalam perumusan pancasila.

Pertanyaan besarnya kemudian adalah apakah pancasila masih cukup sakti untuk menjadi sebuah identitas bangsa..?

Kita telah ditunjukkan oleh sejarah (terlepas bahwa itu masih menjadi kontroversi sampai saat ini) pancasila pernah diuji kesaktiannya oleh gerakan inkonstitusional yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965. Dimana saat itu komunis ingin mengganti dasar negara ini dari pancasila menjadi komunis. 

Sejarah juga telah membuktikan bahwa ternyata upaya tersebut gagal dan sampai saat ini dasar negara ini masih pancasila. Itu menunjukkan bahwa saat itu ada banyak pancasilais yang tidak rela jika gerakan komunis itu menjadi pemenang.

Nah, langkah itu perlu ditiru, saat ini harus dihadirkan kembali kebanggaan kepada pancasila. Salah satu upaya nyata yang dapat dilakukan agar dalam diri para generasi muda memahami dan bangga dengan pancasila adalah dengan memasukkan kembali mata pelajaran pancasila kedalam kurikulum pendidikan dan mengganti PKN menjadi PPKn atau bahkan kembali ke PMP.  Jika langkah itu dilakukan, saya yakin ada benteng kuat yang ada dalam diri generasi muda kita dalam menghadapi gempuran dalam pergaulan global dan multikultural seperti saat ini yang dipasarkan secara sporadis oleh internet. Pancasila dapat menjadi saringan otomatis bagi para pengakses informasi dunia maya.

3 komentar:

  1. nice Blog..
    Good luck ya.. :)

    yuk, maen k blog ku jg..
    http://massyh99.blogspot.com/2013/03/pancasila-itu-vitamin-indonesia.html

    BalasHapus
  2. Makasih kunjungannya mba. :)

    BalasHapus
  3. Makasih sob udah share, blog ini sangat membantu saya sekali .......................



    bisnistiket.co.id

    BalasHapus